Kamis, 06 Maret 2008

Bab - I Tugas Mahaguru (3)

Keesokan hari nya, dikala mentari bersinar dengan sangat cerah, Mpu Bharadah keluar dari ruang semedi setelah melakukan puja kehadapan Dewa Surya, dengan wajah yang cerah seakan akan tidak ada beban yang menggelayuti Sang Mpu. Inilah salah satu ciri dari betapa tinggi ilmu batin yang dimiliki Beliau, sehingga berbagai persoalan yang berat tidak bisa mempengaruhi.

Seperti hari hari biasanya, Mpu Bahula lalu menyongsong kehadiran Sang Guru untuk mendengar perintah atau tugas yang harus dilakukan. Perintah tersebut biasanya sangat singkat dan jelas, sehingga dibutuhkan konsentrasi untuk menangkapnya. Ini disebabkan oleh sifat Mpu Bharadah yang sangat pendiam dan berbicara kalau ada keperluan saja.

Mpu Bharadah segera mengambil tempat duduk seperti biasanya dan langsung berkata,"Bahula, engkau sudah lama ikut denganku. Sudah 17 tahun. Selama itu telah banyak ilmu yang engkau serap dariku. Boleh dikatakan hampir semua ilmu sudah engkau kuasai. Hanya ilmu batin Jagadhita saja yang belum sempurna engkau kuasai".

Mpu Bahula menunduk dengan hormat dan berkata,"Guru, hamba sudah berusaha untuk mempelajarinya, tetapi sampai sekarang belum bisa dengan sempurna". Mpu Bharadah tersenyum dan berkata,"Bahula, sudah berulangkali aku katakan padamu bahwa Jagadhita adalah ilmu batin, selama engkau belum mengerti tentang atma tatva (ilmu tentang atma) maka engkau belum bisa untuk menguasainya".

Mpu Bharadah melanjutkan,"Sekarang sudah saatnya bagimu untuk turun gunung dan mengamalkan ilmu yang kamu miliki sekaligus berusaha mendalami atma tatva tersebut. Namun aku beri tugas kamu ntuk pergi ke Desa Dirah, carilah jodoh yang sekiranya cocok bagimu".

Seperti tersambar petir rasanya Mpu Bahula mendengar titah dari Sang Guru. Sedikitpun belum kepikiran baginya untuk mencari pendamping hidup. Namun sebagai seorang murid yang patuh, titah Sang Guru haus dilakukan. Mpu Bahula begitu mempercayai akan kebijaksanaan Sang Guru. Kalau Mpu Bharadah memerintahkan sesuatu, itu biasanya sudah melalui proses perenungan batin yang sangat panjang.

Oleh karena itu, tanpa pikir panjang lagi, Mpu Bahula segera menjawab,"Guru, semua perintah guru akan hamba lakukan, kapan sebaiknya hamba berangkat?'.

Mpu Bharadah sangat mengenal watak muridnya yang sangat patuh dan tidak pernah membantah Sang Guru. Kemudian Beliau berkata,"Pakailah semua ilmu yang kamu miliki untuk menegakkan kebaikan dan kebenaran, jangan terburu-burun untuk mengambil suatu kesimpulan atas suatu masalah, cernalah dahulu agar tidak menimbulkan sesal di kemudian hari, dan jangan lupa untuk singgah ke Uwak Gurumu Mpu Istri di desa Dirah, sebaiknya kamu berangkat besok pagi".

Itulah seklias latar belakang kenapa Mpu Bahula mengadakan perjalanan turun gunung Semeru. Suatu perjalanan yang sudah lama dinantikan, untuk mencari pengalaman sekaligus mengamalkan apa yang sudah dipelajarinya. Terbersit suatu kekhawatiran akan Sang Guru yang ditinggal sendirian di gunung Semeru, tapi mengingat bahwa Sang Guru sudah sedemikian dalam ilmunya, maka kekhawatiran itu bisa di tepis.

Dengan hati riang Mpu Bahula melanjutkan perjalanan, menyusuri sawah ladang, turun jurang dan menyebrangi sungai. Perjalanan yang berliku itu tidak merupakan penghambat baginya karena sudah terbiasa berlatih dengan sangat keras. Hal itu juga di lakukan diperjalanan, apabila tempatnya mengijinkan, maka Mpu Bahula selalu melakukan latihan latihan, baik itu semedi maupun latihan ilmu yang berdasarkan pada gerakan.

Suatu siang Mpu Bahula sedang asyik menikmati makan siang yang berupa jagung dan ayam hutan yang dibakar. Dengan keahliannya sangat mudah baginya untuk menangkap ayam hutan tersebut dan membakarnya sehingga bisa menghilangkan rasa lapar.

Tiba tiba terdengar suatu auman macan dan teriakan minta tolong seorang lelaki. Mpu Bahula segera berlari ketempat asal suara tersebut. Begitu sampai alangkah terkejutnya, ketika dilihatnya seekor macan sedang menyerang seorang lelaki tua. Lelaki itu sudah kelelahan dan putus asa, berharap semuanya akan selesai dengan terkaman macan terakhir itu. Macan tersebut juga sangat bergairah melihat korbannya hanya meringkuk dan tidak mampu untuk melawan.

Begitu macan tersebut melompat untuk terkaman yang terakhir, Mpu Bahula segera memapaki terkaman macan dengan menggunakan ilmu Sapu Angin yang berasal dari unsur Bayu. Sang macan terbanting seperti ditiup angin topan, bukan hanya itu, tempat tersebut hancur berantakan, bahkan si bapak tua merasakan betapa kuatnya sapuan angin tersebut.

Macan itu marah dan bangun kembali kemudian langsung menyerang Mpu Bahula. Dengan sikap tenang Sang Mpu memapaki serangan macan dengan pukulan Selaksa Bumi. Bagai menumbuk sebongkah batu besar, sang macan kembali terbanting dan tidak bergerak lagi. Mpu Bahula kemudian menghampiri macan tersebut dan memastikan bahwa macan itu sudah pingsan, kemudian dihampirinya si bapak tua yang ternganga keheranan. Dalam benaknya berkata, alangkah saktinya anak muda ini, sekali gebrak saja sudah sanggup mengalahkan seekor macan.

"Bapak keadaannya bagaimana? Lukanya mari saya obati", dengan lembut sang Mpu membantu bapak tua itu bangun.

"Raden, terimakasih atas budi baik telah menyelamatkan Bapak. Kalau tidak ada Raden, mungkin bapak sudah kehilangan nyawa", bapak tua berkata dengan penuh ketulusan dan rasa terimakasih.

Mpu bahula tersenyun,"Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling menolong sesama, apalagi kalau kita sudah menyangkut nyawa sesama. Saya hanya kebetulan saja lewat di sini. Bapak dari mana asalnya?"

"Nama saya Kirun dan berasal dari desa Ranupane, desa saya sedang ada musibah, di jarah sama perampok Ki Bergolo. Semua keluarga saya pada cerai berai, anak saya dibunuh sama perampok itu, itulah sebabnya kenapa saya melarikan diri dan ketemu sama macan ini", bapak tua menangis menuturkan nasibnya.

Mpu Bahula merasa trenyuh dan kasihan melihat kondisi si bapak tua,"Bapak sabar ya, segala sesuatu pasti ada himahnya. Hyang Widhi sudah mengatur semuanya untuk kesejahteraan manusia, jadi kita harus sabar untuk menjalaninya".

"Saya akan mencoba untuk membantu bapak sebisa saya, jadi sekarang bapak istirahat dulu," imbuh Mpu Bahula menenangkan si bapak.

"Terimakasih raden, sungguh bantuan raden sangat saya harapkan untuk menumpas geombolan perampok Ki Bergolo, saya sudah tidak sabar lagi untuk segera balik ke desa saya," dengan begitu tergesa-gesa si bapak tua melangkahkan kakinya.

Mpu Bahula hanya bisa menggelengkan kepala, dan mencoba untuk memahami konflik yang dialami si bapak tua

Bersambung...

Selasa, 04 Maret 2008

Bab - I Tugas Mahaguru (2)

Mpu Bharadah seperti telah dijelaskan sebelumnya adalah Mpu yang sangat mumpuni dengan berbagai ilmu linuwih yang Beliau miliki.

Beliau memiliki sifat pendiam dan tidak akan pernah bicara kalau tidak ada sesuatu yang penting yang akan dibahas. Karena sifatnya itu maka Beliau lebih suka untuk menjalani kehidupan dengan berdiam di lereng gunung Semeru yang sangat tenang dan asri.

Kesibukan Beliau tiap hari adalah mengadakan pemujaan di pagi hari terhadap Dewa Surya kemudian menggembleng Mpu Bahula dengan berbagai macam ilmu gerak dan kebatinan.

Suatu hari, ketenangan lereng gunung Semeru seolah terusik dengan derap kaki seekor kuda yang dipacu dengan sangat kencang. Kalau dilihat dari ketangkasan si pengendara jelas terlihat bahwa yang menaiki kuda tersebut adalah orang yang memiliki dasar ilmu persilatan. Meskipun kencang sekali dan jalan yang berkelok-kelok, si pengendara tetap tenang mengendalikan kudanya.

Si pengendara baru melambatkan kudanya setelah dekat dengan pesraman Mpu Bharadah. Setelah turun dan menambatkan kudanya, maka si pengendara yang memakai pakaian khas keprajuritan menuju ke bangunan utama yang merupakan tempat tinggal Mpu Bharadah.

Mpu Bahula sebagai satu-satunya murid di sana langsung menyambut tamu yang baru datang itu.

"Maaf Ki sanak, saya bernama Mpu Bahula murida dari Mpu Bharadah. Ki sanak ini siapa dan ada keperluan apa datang kemari?." Mpu Bahula dengan suara yang lembut menenyakan maksud kedatangan tamu tersebut.

Meskipun mengalami kelelahan karena menunggang kuda yang sangat jauh, Sang Tamu langsung menjawab. " Maafkan saya Sang Mpu, nama saya Senopati Madrim dari kerajaan Kediri. Saya diutus kesini oleh Sang Prabu Erlangga untuk menyampaikan surat Beliau kepada Sang Mahamuni Mpu Bharadah. Maaf saya tidak mengenali Mpu Bahula yang merupakan murid Beliau".

"Guru Mpu Bharadah baru saja selesai melakukan puja kehadapan Dewa Surya. Ini merupakan kebiasaan Beliau sebagai seorang Maharesi. Silahkan Ki sanak menunggu di ruang pendopo yang sederhana ini, sementara saya akan mengabarkan kedatangan Ki sanak ke Beliau", ujar Mpu Bahula.

Pengendara kuda yang ternyata adalah Senopati Madrim segera duduk di temapat yang telah disediakan. Senopati Madrim adalah seorang prajurit yang merupakan tangan kanan dari Prabu Erlangga. Beliau memiliki segudang ilmu yang pilih tanding dan watak yang baik sehingga bisa sampai pada pangkat Senopati. Saat itu tidak ada seorang Senopati pun yang sanggup mengalahkan Senopati Madrim dalam laga perang tanding.

Setelah Mpu Bharadah berkenan untuk menemui Senopati Madrim, maka dengan diantar oleh Mpu Bahula, sang senopati bergegas menuju ke tempat Mpu Baradah.

Tempat tinggal sang Mpu adalah merupakan bangunan yang sangat sederhana. Bangunan tersebut terbuat dari tanah liat dengan beratapkan rumbia. Tidak ada perabotan yang mewah, yang ada hanya perabotan untuk keperluan sehari-hari. Dibandingkan dengan posisi Beliau sebagai Bagawanta (penasihat) Sang Prabu Erlangga, maka tempat tinggal ini sungguh tidak sesuai.

Tapi Beliau adalah seorang Maharesi yang sudah tidak terikat dari keduniawian, yang hanya menjalani hidup sebagai suatu tugas dan pengabdian kepada Ida Hyang Widhi.

Setelah sampai di tempat sang Mpu, maka senopati Madrim segera menghaturkan sembah hormat. "Hormat hamba senopati Madrim, mohon maaf apabila kedatangan hamba mengganggu Sang Mpu".

Dengan tersenyum Mpu Bharadah menjawab,"Apakabarmu senopati?, telah lama kita tidak saling jumpa, apa gerangan yang membuat senopati datang ke gubuk ini?"

"Maaf sang Mpu, kedatangan hamba ke sini adalah diutus oleh Sri Maharaja Prabu Erlangga, untuk menyampaikan suatu surat dari Beliau kehadapan Sang Mpu". Setelah berkata begitu maka senopati Madrim mengeluarkan gulungan surat yang telah berisi cap kerajaan Kediri. Kemudian surat itu dipersembahkan kepada Mpu Bharadah.

Mpu Bharadah menerima surat tersebut dengan perasaan yang tenang. Sedikitpun tidak ada perubahan di rona wajah Beliau, meskipun surat Sang Prabu sangat mungkin berarti sesuatu yang gawat sedang terjadi di wilayah Kediri.

Beliau lalu membuka membacanya dalam hati

"Hormat Hamba Prabu Erlangga kehadapan Sang Maharesi Mpu Bharadah. Semoga sang Maharesi selalu dalam keadaan sehat di dalam perlindungan Hyang Widhi.

Sang Maharesi, sesuatu sedang terjadi di wilayah Kediri, tepatnya di Desa Dirah. Sang Mpu Istri yang merupakan kakak ipar dari Sang Maharesi, sedang melakukan swayembara untuk mencari jodoh bagi putri Beliau yaitu Diah Ratna Manggali.

Namun berdasarkan hasil dari telik sandi kerajaan, bisa jadi kegiatan itu akan dijadikan tunggangan oleh pihak lain untuk melakukan suatu kegiatan pemberontakan terhadap kerajaan Kediri. Terlebih lagi dengan keberadaan Mpu Naga yang merupakaan kakak seperguruan dari Mpu Istri. Seperti Sang Maharesi ketahui, Mpu Naga selalu berusaha menggerogoti Kediri

Mohon kiranya Sang maharesi membantu untuk menyelesaikan masalah tersebut dan merahasiakan hal ini.

Hormat hamba

Ananda Prabhu Erlangga"

Mpu Bharadah menarik nafas panjang setelah membaca surat dari Baginda Raja. Terbayang di benak Beliau pengaruh Mpu Naga yang sangat besar terhadap Mpu Istri. Mereka berdua adalah pewaris ilmu yang berdasar pada kitab Atharva. Kitab Atharva merupakan kitab keempat dari rangkaian kitab suci Weda yang berisi ajaran-ajaran kebatinan tingkat tinggi di samping ajaran budi pekerti. Di sini apabila batin seseorang belum kuat, maka ajaran ilmu dapat diselewengkan untuk melakukan kegiatan yang merugikan masyarakat. Hitam dan putihnya suatu ilmu tergantung dari yang memiliki ilmu itu sendiri.

Mpu Naga terkenal dengan penguasaan ilmu pengiwa (pengeleakan) yang sangat menggiriskan. Ilmu ini bisa dipakai untuk menolong atau mencelakai orang. Tingkatan tertinggi dari ilmu ini adalah ilmu Nerangjana yang bisa membuat lawan celaka seketika bahkan sampai membunuhnya.

Meskipun Mpu Naga dan Mpu Istri merupakan saudara seperguruan, tapi watak mereka sangat berbeda. Mpu Naga mempunyai pembawaan yang penuh dengan amarah, nafsu karena dikuasai oleh sifat Rajasika. Sedangkan Mpu Istri mempunyai pembawaan yng penuh welas asih karena dipengaruhi oleh sifat Sattva. Karena sifat ini pula maka Mpu Kuturan menjadikan Mpu Isti sebagai Istri Beliau. Bahkan Mpu Istri merupakan salah satu pelindung kerajaan Kediri sehingga kerajaan menjadi aman makmur.

Rasa hormat Mpu Istri terhadap Mpu Naga sering dipergunakan oleh Mpu Naga untuk melakukan suatu perbuatan yang mementingkan diri sendiri. Mpu Naga mempunyai seorang murid yang bernama Raden Tedjasmara. Seperti gurunya, maka Raden Tedjasmara memiliki sifat yang arogan.

Mpu Bharadah bisa menduga bahwa Mpu Naga sengaja membuat konsentrasi Mpu Istri menjadi pecah dengan urusan jodoh tersebut untuk membuat huru hara di kerajaan Kediri. Dengan menghela nafas panjang mPu Bharadah kemudian berkata,"Senopati Madrim, saya sudah mengerti apa maksud Sri Baginda dengan sura ini, silahkan senopati beristirahat dulu sebelum melanjutkan perjalanan".

Senopati Madrim yang sudah terbiasa dengan pembawaan Mpu Bharadah kemudian berkata,"Mpu, saya akan segera kembali ke Kediri untuk melakukan tugas yang lain seperti titah Sri Baginda". Setelah mengahaturkan sembah hormat kehadapan Mpu Bharadah, Senopati Madrim dengan diantarkan oleh Mpu Bahula segera mengambil kuda Beliau dan kemudian melaju dengan cepat.

Mpu Bharadah kembali ke ruang semedi Beliau untuk dan merenungkan langkah apa yang bisa dilakukan untuk membantu Sang Prabu. Mpu Bahula yang sudah mengetahui adat Sang Guru tidak berani mengganggu dan memilih untuk melakukan latihan seperti biasa.

Bersambung.....

Minggu, 02 Maret 2008

Bab - I Tugas Mahaguru (1)

Di pagi yang cerah, burung-burung berkicau menyambut mentari seakan berlomba menyambut datangnya pagi. Di tepi gunung Semeru tampak situasi sangat tenang. Seakan akan semuanya menyatu dengan sang alam semesta.

Sepasang kaki tampak menuruni lereng gunung tersebut. Kaki itu milik seorarang lelaki muda, berbadan tegap, kulitnya coklat terbakar cahaya mentari. Dilihat dari wajahnya usianya sekitar 24 tahun.

Tampak kaki tersebut sangat lincah menapaki jalan setapak, seakan akan sudah hafal dengan daerah tersebut. Memang demikian adanya, karena yang memiliki kaki itu adalah seorang Mpu yang bernama Mpu Bahula.

Mpu Bahula adalah murid dari Mpu Bharadah, dimana Mpu Bharadah sendiri terkenal sebagai seorang suci yang sangat mumpuni dan dipercaya sebagai penasihat Sri Baginda Prabu Erlangga. Mpu Bharadah merupakan salah seorang dari persaudaraan Panca Rsi yang ada saat itu, Beliau merupakan Mpu ke lima. Beliau berstana di Gunung Semeru, sedangkan ke empat saudara Beliau yang lain memiliki stana sendiri sendiri di jagat Bali Dwipa.

Mpu Bharadah menggembleng Mpu bahula dengan bermacam macam ilmu kesaktian dan kebatinan, sehingga Mpu Bahula menjadi seorang yang pilih tanding untuk seorang seusianya. Dengan dilengkapi oleh wejangan tingkah laku yang tinggi maka lengkap sudah ilmu yang dimiliki Mpu Bahula

Diantara ilmu yang diajarkan, terdapat ilmu Jagadhita. Ilmu ini merupakan dasar dan tujuan akhir dari segala ilmu yang ada di bumi dan terdiri dari lima tingkat sesuai dengan tingkat kesucian batin dari yang mempelajarinya. Pada dasarnya ilmu ini bertolak dari lima selimut atau yang disebut dengan Panca Kosa yang menutupi jati diri manusia sebelum manusia itu mengetahui dirinya sendiri.

Tingkat pertama merupakan penguasaan badan, tingkat kedua merupakan penguasaan Prana, tingkat ke tiga merupakan penguasaan pikiran, tingat keempat merupakan penguasaan keilmuan, dan tingkat yang paling tinggi merupakan penguasaan kebahagiaan jiwa

Mpu Bahula sendiri baru sampai pada tahap ke tiga, yang merupakan tahap dyana atau pengendalian pikiran. Tingkat ini termasuk susah untuk orang seusianya karena semangat dan nafsu yang sangat menggebu gebu oleh godaan keduniawian.

Teringat di benak Mpu Bahula, bagaimana Sang Mahaguru Mpu Bharadah menjelaskan tentang ilmu Jagadhita tersebut, bahwa ilmu ini hanya akan dikuasai dengan sempurna oleh orang yang benar benar berhati suci, tanpa pamrih apapun. Kondisi kejiwaan ini hanya dapat di capai oleh mereka yang benar benar meresapi ajaran para leluhur.

Diceritakan oleh Mpu Bharadah bahwa saat itu yang sudah menguasainya adalah sang Panca Rsi sendiri, di luar kelima rsi tersebut belum ada yang sanggup menguasainya. Ini dikarenakan oleh tuntutan ilmu itu yang mensyaratkan kondisi hati dan batin yang suci.

Mpu Bahula yang mulai digembleng semenjak umur 7 tahun merasakan betul betapa berat lakon yang harus dijalani untuk dapat menguasai tingkatan-tingkatan ilmu Jagadhita. Tak jarang Mpu Bahula harus bersemedi selama 42 hari tanpa makan dan minum hanya untuk menguji kekuatan batinnya.

Di samping ilmu Jagadhita, Mpu Bharadah juga menurunkan ilmu gerak yang berdasarkan pada pengertian lima unsur alam semesta yaitu Panca Maha Bhuta. Dari unsur tanah (Pertiwi) terlahir ilmu Selaksa Bumi, dari unsur air (Apah) terlahir ilmu Samudra Luwih, dari unsur api (Teja) terlahir ilmu Teja Gumilar, dari unsur angin (Bayu) terlahir ilmu Sapu Angin dan dari unsur ether (Akasa) terlahir ilmu Sukma Pancer.

Ilmu gerak yang berdasarkan pada lima unsur alam, apabila digunakan dengan dasar ilmu Jagadhita maka akan menjadi kekuatan yang sangat dahsyat. Mpu Bahula sendiri pernah mempraktekkan ilmu Selaksa Bumi untuk memukul batu sebesar kerbau. Batu tersebut hancur berkeping-keping. Ilmu Samudra Luwih dapat digunakan untuk melaksanakan serangan secara bergulung-gulung laksana ombak samudra. Sedangkan ilmu-ilmu yang lain juga tidak kalah dahsyat.

Setelah selama 17 tahun mendapat gemblengan langsung dari Mpu Bharadah, baru kali ini diijinkan untuk melakukan suatu perjalanan guna mengamalkan dan memperluas ilmu yang sudah dipelajari. Tapi dibalik semua itu ada tugas yang harus dilakukan sesuai dengan perintah Sang Guru.

Terbayang di benak Mpu Bahula suatu peristiwa yang diduga menjadi latar belakang perintah dari Sang Guru.

Bersambung......

Cerita Calonarang

Pembaca

Saya akan coba untuk menulis sebuah epik yang terjadi di bumi nusantara ratusan tahun lalu yang merupakan asal usul dunia ilmu batin/kedigjayaan di bumi nusantara ini.

Epik ini mengambil latar belakang kerajaan Kediri yang diperintah oleh raja Airlangga yang merupakan keturunan Sri Udayana dan Warmadewa dari Bali

Selamat menikmati