Selasa, 04 Maret 2008
Bab - I Tugas Mahaguru (2)
Mpu Bharadah seperti telah dijelaskan sebelumnya adalah Mpu yang sangat mumpuni dengan berbagai ilmu linuwih yang Beliau miliki.
Beliau memiliki sifat pendiam dan tidak akan pernah bicara kalau tidak ada sesuatu yang penting yang akan dibahas. Karena sifatnya itu maka Beliau lebih suka untuk menjalani kehidupan dengan berdiam di lereng gunung Semeru yang sangat tenang dan asri.
Kesibukan Beliau tiap hari adalah mengadakan pemujaan di pagi hari terhadap Dewa Surya kemudian menggembleng Mpu Bahula dengan berbagai macam ilmu gerak dan kebatinan.
Suatu hari, ketenangan lereng gunung Semeru seolah terusik dengan derap kaki seekor kuda yang dipacu dengan sangat kencang. Kalau dilihat dari ketangkasan si pengendara jelas terlihat bahwa yang menaiki kuda tersebut adalah orang yang memiliki dasar ilmu persilatan. Meskipun kencang sekali dan jalan yang berkelok-kelok, si pengendara tetap tenang mengendalikan kudanya.
Si pengendara baru melambatkan kudanya setelah dekat dengan pesraman Mpu Bharadah. Setelah turun dan menambatkan kudanya, maka si pengendara yang memakai pakaian khas keprajuritan menuju ke bangunan utama yang merupakan tempat tinggal Mpu Bharadah.
Mpu Bahula sebagai satu-satunya murid di sana langsung menyambut tamu yang baru datang itu.
"Maaf Ki sanak, saya bernama Mpu Bahula murida dari Mpu Bharadah. Ki sanak ini siapa dan ada keperluan apa datang kemari?." Mpu Bahula dengan suara yang lembut menenyakan maksud kedatangan tamu tersebut.
Meskipun mengalami kelelahan karena menunggang kuda yang sangat jauh, Sang Tamu langsung menjawab. " Maafkan saya Sang Mpu, nama saya Senopati Madrim dari kerajaan Kediri. Saya diutus kesini oleh Sang Prabu Erlangga untuk menyampaikan surat Beliau kepada Sang Mahamuni Mpu Bharadah. Maaf saya tidak mengenali Mpu Bahula yang merupakan murid Beliau".
"Guru Mpu Bharadah baru saja selesai melakukan puja kehadapan Dewa Surya. Ini merupakan kebiasaan Beliau sebagai seorang Maharesi. Silahkan Ki sanak menunggu di ruang pendopo yang sederhana ini, sementara saya akan mengabarkan kedatangan Ki sanak ke Beliau", ujar Mpu Bahula.
Pengendara kuda yang ternyata adalah Senopati Madrim segera duduk di temapat yang telah disediakan. Senopati Madrim adalah seorang prajurit yang merupakan tangan kanan dari Prabu Erlangga. Beliau memiliki segudang ilmu yang pilih tanding dan watak yang baik sehingga bisa sampai pada pangkat Senopati. Saat itu tidak ada seorang Senopati pun yang sanggup mengalahkan Senopati Madrim dalam laga perang tanding.
Setelah Mpu Bharadah berkenan untuk menemui Senopati Madrim, maka dengan diantar oleh Mpu Bahula, sang senopati bergegas menuju ke tempat Mpu Baradah.
Tempat tinggal sang Mpu adalah merupakan bangunan yang sangat sederhana. Bangunan tersebut terbuat dari tanah liat dengan beratapkan rumbia. Tidak ada perabotan yang mewah, yang ada hanya perabotan untuk keperluan sehari-hari. Dibandingkan dengan posisi Beliau sebagai Bagawanta (penasihat) Sang Prabu Erlangga, maka tempat tinggal ini sungguh tidak sesuai.
Tapi Beliau adalah seorang Maharesi yang sudah tidak terikat dari keduniawian, yang hanya menjalani hidup sebagai suatu tugas dan pengabdian kepada Ida Hyang Widhi.
Setelah sampai di tempat sang Mpu, maka senopati Madrim segera menghaturkan sembah hormat. "Hormat hamba senopati Madrim, mohon maaf apabila kedatangan hamba mengganggu Sang Mpu".
Dengan tersenyum Mpu Bharadah menjawab,"Apakabarmu senopati?, telah lama kita tidak saling jumpa, apa gerangan yang membuat senopati datang ke gubuk ini?"
"Maaf sang Mpu, kedatangan hamba ke sini adalah diutus oleh Sri Maharaja Prabu Erlangga, untuk menyampaikan suatu surat dari Beliau kehadapan Sang Mpu". Setelah berkata begitu maka senopati Madrim mengeluarkan gulungan surat yang telah berisi cap kerajaan Kediri. Kemudian surat itu dipersembahkan kepada Mpu Bharadah.
Mpu Bharadah menerima surat tersebut dengan perasaan yang tenang. Sedikitpun tidak ada perubahan di rona wajah Beliau, meskipun surat Sang Prabu sangat mungkin berarti sesuatu yang gawat sedang terjadi di wilayah Kediri.
Beliau lalu membuka membacanya dalam hati
"Hormat Hamba Prabu Erlangga kehadapan Sang Maharesi Mpu Bharadah. Semoga sang Maharesi selalu dalam keadaan sehat di dalam perlindungan Hyang Widhi.
Sang Maharesi, sesuatu sedang terjadi di wilayah Kediri, tepatnya di Desa Dirah. Sang Mpu Istri yang merupakan kakak ipar dari Sang Maharesi, sedang melakukan swayembara untuk mencari jodoh bagi putri Beliau yaitu Diah Ratna Manggali.
Namun berdasarkan hasil dari telik sandi kerajaan, bisa jadi kegiatan itu akan dijadikan tunggangan oleh pihak lain untuk melakukan suatu kegiatan pemberontakan terhadap kerajaan Kediri. Terlebih lagi dengan keberadaan Mpu Naga yang merupakaan kakak seperguruan dari Mpu Istri. Seperti Sang Maharesi ketahui, Mpu Naga selalu berusaha menggerogoti Kediri
Mohon kiranya Sang maharesi membantu untuk menyelesaikan masalah tersebut dan merahasiakan hal ini.
Hormat hamba
Ananda Prabhu Erlangga"
Mpu Bharadah menarik nafas panjang setelah membaca surat dari Baginda Raja. Terbayang di benak Beliau pengaruh Mpu Naga yang sangat besar terhadap Mpu Istri. Mereka berdua adalah pewaris ilmu yang berdasar pada kitab Atharva. Kitab Atharva merupakan kitab keempat dari rangkaian kitab suci Weda yang berisi ajaran-ajaran kebatinan tingkat tinggi di samping ajaran budi pekerti. Di sini apabila batin seseorang belum kuat, maka ajaran ilmu dapat diselewengkan untuk melakukan kegiatan yang merugikan masyarakat. Hitam dan putihnya suatu ilmu tergantung dari yang memiliki ilmu itu sendiri.
Mpu Naga terkenal dengan penguasaan ilmu pengiwa (pengeleakan) yang sangat menggiriskan. Ilmu ini bisa dipakai untuk menolong atau mencelakai orang. Tingkatan tertinggi dari ilmu ini adalah ilmu Nerangjana yang bisa membuat lawan celaka seketika bahkan sampai membunuhnya.
Meskipun Mpu Naga dan Mpu Istri merupakan saudara seperguruan, tapi watak mereka sangat berbeda. Mpu Naga mempunyai pembawaan yang penuh dengan amarah, nafsu karena dikuasai oleh sifat Rajasika. Sedangkan Mpu Istri mempunyai pembawaan yng penuh welas asih karena dipengaruhi oleh sifat Sattva. Karena sifat ini pula maka Mpu Kuturan menjadikan Mpu Isti sebagai Istri Beliau. Bahkan Mpu Istri merupakan salah satu pelindung kerajaan Kediri sehingga kerajaan menjadi aman makmur.
Rasa hormat Mpu Istri terhadap Mpu Naga sering dipergunakan oleh Mpu Naga untuk melakukan suatu perbuatan yang mementingkan diri sendiri. Mpu Naga mempunyai seorang murid yang bernama Raden Tedjasmara. Seperti gurunya, maka Raden Tedjasmara memiliki sifat yang arogan.
Mpu Bharadah bisa menduga bahwa Mpu Naga sengaja membuat konsentrasi Mpu Istri menjadi pecah dengan urusan jodoh tersebut untuk membuat huru hara di kerajaan Kediri. Dengan menghela nafas panjang mPu Bharadah kemudian berkata,"Senopati Madrim, saya sudah mengerti apa maksud Sri Baginda dengan sura ini, silahkan senopati beristirahat dulu sebelum melanjutkan perjalanan".
Senopati Madrim yang sudah terbiasa dengan pembawaan Mpu Bharadah kemudian berkata,"Mpu, saya akan segera kembali ke Kediri untuk melakukan tugas yang lain seperti titah Sri Baginda". Setelah mengahaturkan sembah hormat kehadapan Mpu Bharadah, Senopati Madrim dengan diantarkan oleh Mpu Bahula segera mengambil kuda Beliau dan kemudian melaju dengan cepat.
Mpu Bharadah kembali ke ruang semedi Beliau untuk dan merenungkan langkah apa yang bisa dilakukan untuk membantu Sang Prabu. Mpu Bahula yang sudah mengetahui adat Sang Guru tidak berani mengganggu dan memilih untuk melakukan latihan seperti biasa.
Bersambung.....
No Response to "Bab - I Tugas Mahaguru (2)"
Posting Komentar